Analisis Mekanisme Persuasi dan Rekrutmen Online Kelompok Radikal di Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.30596/jmhs.v3i1.91Abstract
Dalam era digital, kelompok radikal di Indonesia semakin memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk menyebarkan ideologi dan merekrut anggota baru. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme persuasi daring yang digunakan kelompok ekstremis dalam menarik simpatisan, mengidentifikasi faktor psikologis yang meningkatkan kerentanan individu terhadap radikalisasi, serta memetakan tahapan kognitif dari paparan awal hingga keterlibatan aktif dalam aksi radikal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, mengkaji berbagai literatur akademik, laporan riset, dan dokumentasi relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa narasi identitas, simbolisme agama, serta eksploitasi bias kognitif menjadi teknik utama dalam proses persuasi. Sementara itu, faktor seperti krisis identitas, isolasi sosial, dan pencarian makna hidup memperbesar peluang individu terpapar dan terdampak ideologi radikal. Proses radikalisasi mengikuti pola bertahap yang melibatkan transformasi nilai, internalisasi ideologi, hingga keterlibatan aktif. Temuan ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman teoretis serta mendukung strategi kontra-radikalisasi berbasis digital yang lebih efektif.
Kata Kunci: radikalisasi online, persuasi digital, faktor psikologis, narasi ekstremis, rekrutmen daring.
Dalam era digital, kelompok radikal di Indonesia semakin memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk menyebarkan ideologi dan merekrut anggota baru. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme persuasi daring yang digunakan kelompok ekstremis dalam menarik simpatisan, mengidentifikasi faktor psikologis yang meningkatkan kerentanan individu terhadap radikalisasi, serta memetakan tahapan kognitif dari paparan awal hingga keterlibatan aktif dalam aksi radikal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, mengkaji berbagai literatur akademik, laporan riset, dan dokumentasi relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa narasi identitas, simbolisme agama, serta eksploitasi bias kognitif menjadi teknik utama dalam proses persuasi. Sementara itu, faktor seperti krisis identitas, isolasi sosial, dan pencarian makna hidup memperbesar peluang individu terpapar dan terdampak ideologi radikal. Proses radikalisasi mengikuti pola bertahap yang melibatkan transformasi nilai, internalisasi ideologi, hingga keterlibatan aktif. Temuan ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman teoretis serta mendukung strategi kontra-radikalisasi berbasis digital yang lebih efektif.
Kata Kunci: radikalisasi online, persuasi digital, faktor psikologis, narasi ekstremis, rekrutmen daring.
References
Amin, M. (2020). Framing Narasi Radikalisme di Media Sosial: Analisis Konten Propaganda. Jurnal Studi Keamanan Nasional, 12(2), 45-60.
Putri, D. (2019). Eksploitasi Simbol Agama dalam Rekrutmen Online Kelompok Ekstremis. Jurnal Psikologi Sosial, 8(1), 33-50.
Berger, J. M. (2018). Extremist Construction of Identity: How Radical Groups Use Symbolism to Foster Loyalty. Terrorism and Political Violence, 30(4), 625-643.
Sunstein, C. R. (2019).Cognitive Biases and Online Radicalization: The Role of Bandwagon Effect. Journal of Radicalization Studies, 5(3), 112-128.
Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An Integrative Theory of Intergroup Conflict. The Social Psychology of Intergroup Relations, 33-47.
Seligman, M. E. P. (2011). Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-being. American Psychologist, 60(5), 410-421.
Wulandari, D. (2018). Dampak Isolasi Sosial terhadap Kesehatan Mental Lansia. Jurnal Psikologi Klinis Indonesia, 5(2), 112-125.
Suryanto, A. (2020). Krisis Eksistensial pada Dewasa Muda: Peran Pendidikan dan Dukungan Sosial. Jurnal Ilmu Psikologi, 12(1), 45-60.
Borum, R. (2011). “Radicalization into Violent Extremism I: A Review of Social Science Theories.” Journal of Strategic Security, 4(4), 7–36.
McCauley, C., & Moskalenko, S. (2017). Understanding Political Radicalization: The Two-Pyramids Model.”American Psychologist, 72(3), 205–216.
Moghaddam, F. M. (2005). “The Staircase to Terrorism: A Psychological Exploration.” American Psychologist, 60(2), 161–169.
Wahid, A. (2018). “Radikalisasi Digital: Peran Media Sosial dalam Penyebaran Paham Ekstrem di Indonesia.” Jurnal Studi Keamanan Nasional, 6(1), 45–62.
Hidayat, T. (2020). “Proses Kognitif dalam Transformasi Ideologi Radikal: Studi Kasus Kelompok Teroris di Indonesia.” Jurnal Psikologi Sosial, 12(2), 89–104.
Green, M.C., & Brock, T.C. (2000). The role of transportation in the persuasiveness of public narratives. Journal of Personality and Social Psychology.
Doosje, B., Moghaddam, F.M., Kruglanski, A.W., de Wolf, A., & Mann, L. (2016). Terrorism, Radicalization and De-radicalization. Current Opinion in Psychology, 11, 79–84.
Whitehouse, H., McQuinn, B., Buhrmester, M., & Swann, W.B. (2017). The ties that bind us: Ritual, fusion, and identification. Current Anthropology, 58(6), 674–695.
Moghaddam, F.M. (2005). The staircase to terrorism. American Psychologist, 60(2), 161–169.
Baumeister, R. F., & Vohs, K. D. (2002). The Pursuit of Meaningfulness in Life. Handbook of Positive Psychology, 608-618.
Herman, J. L. (1992). Trauma and Recovery: The Aftermath of Violence. Basic Books.
Yalom, I. D. (1980). Existential Psychotherapy. Basic Books.
Erikson, E. H. (1963). Childhood and Society.W.W. Norton & Company.
Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Simon & Schuster.
Sageman, M. (2008). Leaderless Jihad: Terror Networks in the Twenty-First Century. University of Pennsylvania Press.
Kruglanski, A. W., et al. (2019). The Three Pillars of Radicalization: Needs, Narratives, and Networks. Oxford University Press.
Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP). (2019). Dinamika Radikalisasi di Indonesia: Teori dan Praktik Kontra-Terrorism. Pustaka Alvabet.
Sageman, M. (2017). Understanding Terror Networks. University of Pennsylvania Press.
Neumann, P. R. (2020).Digital Radicalization: The Dark Side of Online Persuasion. Cambridge University Press.
Petty, R.E., & Cacioppo, J.T. (1986). Communication and Persuasion: Central and Peripheral Routes to Attitude Change. Springer-Verlag.
Winter, C., Taufiqurrohman, T., Ali, A., & Sagramoso, D. (2020). The ISIS Reader: Milestone Texts of the Islamic State Movement. Oxford University Press.
NYPD Intelligence Division. (2007). Radicalization in the West: The Homegrown Threat. New York Police Department.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. (2022). Laporan Tahunan Ancaman Terorisme di Indonesia. BNPT Republik Indonesia.
Institute for Policy Analysis of Conflict. (2021). The Evolution of Extremist Recruitment in Southeast Asia. IPAC Report No. 67.
Institute for Policy Analysis of Conflict. (2023). Digital Extremism in Post-Pandemic Indonesia. IPAC Report No. 72.
United Nations Interregional Crime and Justice Research Institute. (2022). Countering Online Radicalization in Southeast Asia. UNICRI.
Institute for Policy Analysis of Conflict. (2021). The Evolution of Extremist Recruitment in Southeast Asia. https://file.ipac.org(diakses 20 April 2024).



